Cari di Blog Ini

Promosikan Lele Jadi Oleh-oleh Bekasi

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN Kelompok usaha Karmina memperlihatkan berbagai makanan kering dengan bahan dasar Lele saat Festival Raya Lele Nusantara di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Sabtu (19/6/2010). Makanan kering tersebut dijual antara Rp 8.000 hingga Rp 17.000. 

KOMPAS.com - Lele sebagai ikon Kota Bekasi dapat diterjemahkan secara kreatif oleh pengusaha Hj Erlismiati. Belum lama ini, istri dari M Imron ini, memperkenalkan buah kreativitasnya, yakni makanan serba lele, pada sebuah pameran di Jakarta.
"Awalnya, saya hanya berpikir apa sih yang bisa disumbangkan untuk Kota Bekasi agar bisa menjadi kebanggaan. Ikonnya ikan Lele, saya mencoba membuat makanan yang terbuat dari bahan baku lele. Awalnya, saya bikin pempek, tekwan, dan kerupuk. Jika biasanya terbuat darn ikan tenggiri, lalu saya ganti dengan ikan lele. Ternyata bisa dan enak," kata Erlismiati.
Tidak puas dengan hasil tersebut, dia juga mencoba memanfaatkan limbah ikan tenggiri dan lele untuk produk pangan olahan lainnya, seperti, kerupuk.
"Idenya berasal dari limbah ikan yang menumpuk di rumah. Selama ini, limbah ikan itu hanya jadi sampah yang sangat mengganggu hngkungan, terutama karena baunya yang tidak enak. Dari pada dibuang, saya olah menjadi bahan baku kerupuk," kata Erlismiati
Ternyata, hasilnya bagus dan rasanya banyak yang suka. Apalagi, kata Erlismiati, kerupuknya bisa dibakar sehingga banyak pejabat yang senang karena mereka sudah menghindari makan makanan yang digoreng.
Produk pangan olahan itu mendapat sambutan positif, selain kerupuk itu terbuat dari tulang ikan yang memiliki kalsium tinggi, tetapi juga ramah lingkungan.
"Proses pembuatannya tidak susah dan rasanya gurih meski tidak memakai zat penyedap sama sekali. Sebab, tulang ikan itu memberi rasa gurih. Jadi, semakin banyak tulang ikan, kerupuknya makin gurih," kata Erlismiati.
Menurut Erlismiati, proses pembuatannya tidak susah. Tulang ikan lele itu
dipresto. Sebelum diblender, tulangnya didinginkan dulu. Lalu, hasilnya disaring dan diandon sama tepung, garam, dan bawang putih.
Untuk mendapatkan hasil seperti sekarang ini, Erlismiati membutuhkan waktu bereksperimen. Termasuk berkonsultasi dengan para pakar, seperti dari Balai Besar Industri Argo. Namun, Erlismiati tidak langsung puas dengan hasil yang diperoleh sekarang ini.
"Apa yang dihasilkan itu perlu disempurnakan terus. Di sinilah saya butuh dukungan dan bantuan pemerintah, khususnya dari Wali Kota Bekasi. Saya berharap, produk pangan olahan dari lele ini dapat disumbangkan," kata Erlismiati.
Bahkan, produk itu bisa dijadikan oleh-oleh khas Kota Bekasi. Pemerintah, kata Erhsmiati, bisa menggerakkan UKM untuh memproduksinya. Baginya tidak ada masalah jika banyak UKM yang muncul untuk membuat hal serupa. (hes)

No comments:

Posting Populer